KRISIS MORAL REMAJA INDONESIA DI ERA GLOBALISASI
Globalisasi adalah proses dimana semuanya berlandaskan mentiadakan batasan-batasan. baik batasan wilayah, negara, poliyik, budaya, ekonomi, moral, dan lain sebagainya.
dalam tulisan yang dimuat dalam blog ini, akan membahas krisis yang dirasakan Indonesia akibat adanya Globalisasi. dan terfokus dalam penulisan Krisis Moral Remaja di Era Globalisasi.
Menurut Widjaja (1985:154) menyatakan bahwa moral adalah ajaran baik dan buruk tentang perbuatan dan kelakuan (akhlak). Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral. Nilai-nilai moral itu, seperti:
a. Seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan dan memelihara hak orang lain, dan
b. Larangan mencuri, berzina, membunuh, meminum-minumanan keras dan berjudi.
Moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan yang salah. Dengan demikian, moral merupakan kendali dalam bertingkah laku. Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Sehingga tugas penting yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh masyarakat dan kemudian mau membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial tanpa terus dibimbing, diawasi, didorong, dan diancam hukuman seperti yang dialami waktu anak-anak. Perkembangan moral berhubungan dengan peraturan-peraturan dan nilai-nilai mengenai apa yang harus dilakukan seseorang dalam interaksinya dengan orang lain.
Namun, moral remaja pada era globalisasi ini telah menyimpang dari ajaran tentang tingkah laku hidup atau ajaran agama tertentu yang berlaku di dalam lingkungan masyarakat. Mereka cenderung mengagung-agungkan budaya Barat dibandingkan budaya asli Indonesia yang sebenarnya sangat unik dan beragam. Bukan hanya mengagung-agungkan budaya Barat saja tapi teknologi global pun juga ikut mempengaruhi krisis moral pada remaja.
Globalisasi sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Indonesia terlebih lagi remaja. Sebab remaja merupakan masa pertumbuhan menuju dewasa yang umumnya mereka masih bersifat labil. Itu mereka lakukan agar tidak dianggap ketinggalan jaman atau di ejek “kalau nggak gini iya nggak gaul!”. Hal itu semakin memperparah krisis moral di kalangan remaja.
Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak.
Bertambahnya ketegangan-ketegangan emosional itu disebabkan karena anak-anak remaja harus membuat penyesuaian-penyesuaian terhadap harapan-harapan masyarakat yang baru dan berlainan dari dirinya. Ada banyak bentuk-bentuk emosi yang nampak pada remaja, diantaranya adalah marah, takut, malu, iri hati, kasih saying, kegembiraan, kesedihan, dan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang menyebabkan remaja menyelidiki hal-hal yang ingin diketahuinya, termasuk menyelidiki hal-hal yang negatif.
“Krisis Moral Remaja pada Era Globalisasi” adalah semakin menurunnya perilaku masyarakat yang semakin menyimpang dan remaja tidak henti-hentinya menjadi target utama yang perlu dibenahi. Ini sangat memalukan bagi masyarakat Indonesia yang kental dengan adat ketimurannya. Sangat ironis memang, karena ini semua menimpa generasi penerus yang seharusnya mengharumkan nama bangsa dimata dunia.
Diketahui dengan adanya kemajuan informasi di satu sisi remaja merasa diuntungkan dengan adanya media yang membahas seputar masalah dan kebutuhan mereka. Sedangkan di sisi lain media merasa kaum remajalah yang tepat menjadi konsumen dari berbagai produk yang ditawarkan. Seperti diketahui bersama bahwa media berperan besar dalam pembentukan budaya masyarakat dan proses peniruan gaya hidup, tidak megherankan pada masa sekarang adanya perubahan cepat dalam teknologi informasi menimbulkan pengaruh negatif meskipun pengaruh positifnya masih terasa.
Hal ini terlihat jika dapat diumpamakan remaja perkotaan sudah tertular dengan gaya hidup barat. Terlihat pada sikap remaja yang mengikuti perkembangan mode dunia, mulai dari fashion, gaya rambut, casing hand phone, pakaian, cara makan, cara bertutur kata yang lebih sering menggunakan “ loe gue” dari pada “aku atau saya, kamu”. Bahkan itu pun mereka ucapkan pada saat berbicara kepada orang yang lebih tua. Padahal menurut budaya timur, harusnya kita harus sopan jika berbicara dengan orang yang lebih tua. Lebih jauh lagi, dampak bagi remaja dapat dilihat khususnya perempuan cenderung tertanam dalam pandangan mereka. Jika perempuan menarik adalah perempuan yang agresif dan seksi.
Selain itu, dengan semakin mudahnya remaja mendapatkan VCD porno dan internet yang menampilkan gambar-gambar porno membuat para remaja penasaran untuk mencobanya melalui kehidupan seks bebas atau bahkan jika hasrat seksualnya tinggi bisa nekat melakukan pemerkosaan. Disamping itu, terdapat pula banyak pemilik warung kecil yang dengan bebas menjual kondom bahkan obat perangsang berupa permen karet yang berdampak meningkatkan libido pada wanita. Selain itu, terdapat fenomena kehidupan remaja di perkotaan sering terlihat terdapat pasangan muda mudi yang belum resmi, melakukan sikap yang menyimpang dari moral dan norma, ironisnya lagi terkadang terjadi penggeledahan di hotel-hotel maupun tempat-tempat hiburan malam yang dilakukan oleh pihak yang berwenang karena terdapat praktek mesum dan banyak diantara mereka adalah remaja usia sekolah yang melakukan praktik mesum. Selain itu juga remaja putri yang berjilbab pun patut dipertanyakan meskipun tidak semuanya. Sungguh pemandangan yang kiranya menandakan bahwa moral remaja bangsa ini sudah benar-benar merosot.
Faktor keimanan dan niat untuk benar-benar menjauhi sikap buruk , peran keluarga dan media masa sangat berpengaruh terhadap perkembangan moral remaja. Media masa harus benar-benar memberikan informasi untuk meningkatkan rasa percaya diri, bebas dari diskriminasi, terlindung dari pelecahan, kekerasan, dan eksploitasi seks.
Penyebab terjadinya krisis moral yang menimpa remaja diantaranya adalah kurangnya perhatian dari keluarga, pergaulan yang tidak baik, dan lingkungan tempat tinggal yang kurang baik. Semua ini tidak terlepas dari peran orang tua yang seharusnya dapat mengontrol tingkah perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
dan alasan saya mengambil judul ini karena pada era globalisasi terjadi penurunan moral pada remaja Indonesia mau membaca sehingga mereka akan sadar pentingnya moral bagi diri remaja, dan agar remaja mendapat pengetahuan yang lebih luas yaitu tentang tingkah laku itu sendiri. Moral itu sendiri belum berwujud tingkah laku tapi masih acuan dari tingkah laku.
so ... kita ...
Sebagai generasi muda seharusnya kita dapat lebih menghargai budaya kita sendiri dan menjadi remaja yang bermoral yang mampu melawan dampak negatif dari globalisasi dan menganbil dampak positifnya. Tentunya dengan meningkatkan keimanan dan ketekwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
dalam tulisan yang dimuat dalam blog ini, akan membahas krisis yang dirasakan Indonesia akibat adanya Globalisasi. dan terfokus dalam penulisan Krisis Moral Remaja di Era Globalisasi.
Menurut Widjaja (1985:154) menyatakan bahwa moral adalah ajaran baik dan buruk tentang perbuatan dan kelakuan (akhlak). Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral. Nilai-nilai moral itu, seperti:
a. Seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan dan memelihara hak orang lain, dan
b. Larangan mencuri, berzina, membunuh, meminum-minumanan keras dan berjudi.
Moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan yang salah. Dengan demikian, moral merupakan kendali dalam bertingkah laku. Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Sehingga tugas penting yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh masyarakat dan kemudian mau membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial tanpa terus dibimbing, diawasi, didorong, dan diancam hukuman seperti yang dialami waktu anak-anak. Perkembangan moral berhubungan dengan peraturan-peraturan dan nilai-nilai mengenai apa yang harus dilakukan seseorang dalam interaksinya dengan orang lain.
Namun, moral remaja pada era globalisasi ini telah menyimpang dari ajaran tentang tingkah laku hidup atau ajaran agama tertentu yang berlaku di dalam lingkungan masyarakat. Mereka cenderung mengagung-agungkan budaya Barat dibandingkan budaya asli Indonesia yang sebenarnya sangat unik dan beragam. Bukan hanya mengagung-agungkan budaya Barat saja tapi teknologi global pun juga ikut mempengaruhi krisis moral pada remaja.
Globalisasi sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Indonesia terlebih lagi remaja. Sebab remaja merupakan masa pertumbuhan menuju dewasa yang umumnya mereka masih bersifat labil. Itu mereka lakukan agar tidak dianggap ketinggalan jaman atau di ejek “kalau nggak gini iya nggak gaul!”. Hal itu semakin memperparah krisis moral di kalangan remaja.
Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak.
Bertambahnya ketegangan-ketegangan emosional itu disebabkan karena anak-anak remaja harus membuat penyesuaian-penyesuaian terhadap harapan-harapan masyarakat yang baru dan berlainan dari dirinya. Ada banyak bentuk-bentuk emosi yang nampak pada remaja, diantaranya adalah marah, takut, malu, iri hati, kasih saying, kegembiraan, kesedihan, dan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang menyebabkan remaja menyelidiki hal-hal yang ingin diketahuinya, termasuk menyelidiki hal-hal yang negatif.
“Krisis Moral Remaja pada Era Globalisasi” adalah semakin menurunnya perilaku masyarakat yang semakin menyimpang dan remaja tidak henti-hentinya menjadi target utama yang perlu dibenahi. Ini sangat memalukan bagi masyarakat Indonesia yang kental dengan adat ketimurannya. Sangat ironis memang, karena ini semua menimpa generasi penerus yang seharusnya mengharumkan nama bangsa dimata dunia.
Diketahui dengan adanya kemajuan informasi di satu sisi remaja merasa diuntungkan dengan adanya media yang membahas seputar masalah dan kebutuhan mereka. Sedangkan di sisi lain media merasa kaum remajalah yang tepat menjadi konsumen dari berbagai produk yang ditawarkan. Seperti diketahui bersama bahwa media berperan besar dalam pembentukan budaya masyarakat dan proses peniruan gaya hidup, tidak megherankan pada masa sekarang adanya perubahan cepat dalam teknologi informasi menimbulkan pengaruh negatif meskipun pengaruh positifnya masih terasa.
Hal ini terlihat jika dapat diumpamakan remaja perkotaan sudah tertular dengan gaya hidup barat. Terlihat pada sikap remaja yang mengikuti perkembangan mode dunia, mulai dari fashion, gaya rambut, casing hand phone, pakaian, cara makan, cara bertutur kata yang lebih sering menggunakan “ loe gue” dari pada “aku atau saya, kamu”. Bahkan itu pun mereka ucapkan pada saat berbicara kepada orang yang lebih tua. Padahal menurut budaya timur, harusnya kita harus sopan jika berbicara dengan orang yang lebih tua. Lebih jauh lagi, dampak bagi remaja dapat dilihat khususnya perempuan cenderung tertanam dalam pandangan mereka. Jika perempuan menarik adalah perempuan yang agresif dan seksi.
Selain itu, dengan semakin mudahnya remaja mendapatkan VCD porno dan internet yang menampilkan gambar-gambar porno membuat para remaja penasaran untuk mencobanya melalui kehidupan seks bebas atau bahkan jika hasrat seksualnya tinggi bisa nekat melakukan pemerkosaan. Disamping itu, terdapat pula banyak pemilik warung kecil yang dengan bebas menjual kondom bahkan obat perangsang berupa permen karet yang berdampak meningkatkan libido pada wanita. Selain itu, terdapat fenomena kehidupan remaja di perkotaan sering terlihat terdapat pasangan muda mudi yang belum resmi, melakukan sikap yang menyimpang dari moral dan norma, ironisnya lagi terkadang terjadi penggeledahan di hotel-hotel maupun tempat-tempat hiburan malam yang dilakukan oleh pihak yang berwenang karena terdapat praktek mesum dan banyak diantara mereka adalah remaja usia sekolah yang melakukan praktik mesum. Selain itu juga remaja putri yang berjilbab pun patut dipertanyakan meskipun tidak semuanya. Sungguh pemandangan yang kiranya menandakan bahwa moral remaja bangsa ini sudah benar-benar merosot.
Faktor keimanan dan niat untuk benar-benar menjauhi sikap buruk , peran keluarga dan media masa sangat berpengaruh terhadap perkembangan moral remaja. Media masa harus benar-benar memberikan informasi untuk meningkatkan rasa percaya diri, bebas dari diskriminasi, terlindung dari pelecahan, kekerasan, dan eksploitasi seks.
Penyebab terjadinya krisis moral yang menimpa remaja diantaranya adalah kurangnya perhatian dari keluarga, pergaulan yang tidak baik, dan lingkungan tempat tinggal yang kurang baik. Semua ini tidak terlepas dari peran orang tua yang seharusnya dapat mengontrol tingkah perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
dan alasan saya mengambil judul ini karena pada era globalisasi terjadi penurunan moral pada remaja Indonesia mau membaca sehingga mereka akan sadar pentingnya moral bagi diri remaja, dan agar remaja mendapat pengetahuan yang lebih luas yaitu tentang tingkah laku itu sendiri. Moral itu sendiri belum berwujud tingkah laku tapi masih acuan dari tingkah laku.
so ... kita ...
Sebagai generasi muda seharusnya kita dapat lebih menghargai budaya kita sendiri dan menjadi remaja yang bermoral yang mampu melawan dampak negatif dari globalisasi dan menganbil dampak positifnya. Tentunya dengan meningkatkan keimanan dan ketekwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
oke ? :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar